Nasihat Nasihat Orang Tua Pada Anaknya Beranjak Dewasa

Jika adalah yang harus kaulakukan

Ialah menyampaikan kebenaran

Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan

Ialah yang bernama keyakinan

Jika adalah yang harus kau tumbangkan

Ialah segala pohon-pohon kezaliman

Jika adalah orang yang harus kauagungkan

Ialah hanya Rasul Tuhan

Jika adalah kesempatan memilih mati

Ialah syahid di jalan Ilahi.

(Taufik Ismail)

Sastra adalah penyempitan dari karya seni. Sebagai salah satu karya seni, sastra merupakan karangan kreatif-imajinatif yang tak lekang dimakan waktu. Ia abadi, menetap di hati penggemarnya apabila mampu meninggalkan bekas yang berkesan setelah dibaca. Agar tidak hambar, sastra bermain dengan kata-kata supaya tidak membosankan, namun bukan berarti diksi digunakan secara berlebihan sehingga terkesan lebay.

Unsur penting dalam karya sastra selain tema dan keindahan struktur, adalah amanat yang terkandung di dalamnya. Amanat atau nilai moral ini tertuang secara eksplisit maupun implisit dalam suatu karya sastra. Namun pada puisi di atas, sang pengarang, Taufik Ismail menuliskan secara jelas maksud dan amanat dari puisi tersebut di bait puisi itu sendiri. Pembaca tidak perlu berpikir terlalu jauh, hanya tinggal mendalami kalimat-kalimat sederhana yang tetap tersusun apik itu.

Ciao.

Nasihat Nasihat Orang Tua Pada Anaknya Beranjak Dewasa

Budaya, Pengertiannya, dan Indonesia

Menurut Robert H. Lowie, kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal dan/atau informal. 

Sedangkan menurut R.M Suwardi Suryaningrat, kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Budaya, diambil dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan kata jamak dari buddhi diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Berdasarkan definisinya, budaya hidup bersama dan berasal dari manusia itu sendiri. Di masa terbentuknya, budaya hanyalah sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok manusia. Namun kebiasaan tersebut akhirnya melekat pada kelompok masyarakatnya, kemudian diturunkan kepada generasi selanjutnya yang menjadi kelompok masyarakat zaman sekarang.

Budaya dipandang sebagai ciri khas suatu kelompok masyarakat, bahkan negara. Ia tidak bisa terpisahkan sehingga citra individu dapat dipengaruhi oleh budaya yang dimilikinya. Meski begitu, budaya tidaklah abadi jika generasi penerus tidak mau melestarikan warisan yang ditinggalkan pendahulunya; yaitu sejarah dan budaya.

Negara yang tidak menonjolkan budayanya bagai tidak memiliki identitas. Tidak ada istimewanya, hanya sekedar wilayah yang dihuni manusia. Negara tanpa budaya mirip kanvas tanpa warna. Harusnya menjadi lukisan yang indah, tapi ia dibiarkan terpajang dengan kekosongannya.

Alam Indonesia hampir tak tertandingi oleh negara termaju sekali pun. Sayang, sumber daya manusia berkualitas di Indonesia masih di bawah standar karena tertutupi oleh kebodohan, keegoisan, kemiskinan, serta rasa malu untuk memulai sesuatu yang baru, atau membangkitkan hal yang telah lalu. Tapi mereka tidak malu jika sekedar meniru.

Indonesia yang memiliki lebih dari seribu potensi tak tergali, permukaannya terhiasi budaya dari negara lain. Globalisasi masuk ke Indonesia seperti air terjun yang membasahi semua di bawahnya, semua terkena. Banyak generasi meninggalkan budaya asli, lalu ketika seseorang di generasi selanjutnya menyadari, ia akan berpikir : “Apakah negaraku tidak punya identitas sendiri?

Bukan tidak punya, mungkin lebih tepatnya tidak terakui. Jika ada peringatan berupa pencurian hasil budaya oleh budaya lain, barulah pemerintah bertindak dan rakyat berkoar-koar menuntut hasil budaya tersebut dikembalikan. Hasil budaya yang tidak semua dari mereka tahu, karena tidak dilestarikan secara baik.

Bukannya tidak boleh mengetahui atau menyukai budaya negara lain, justru kita tidak boleh buta tentang pengetahuan global. Tapi kita juga harus tahu, kalau bukan kita yang menyayangi dan meneruskan budaya Indonesia ke generasi selanjutnya, maka harus siapa lagi? Berbanggalah untuk apa yang kita punya, sebab belum tentu orang lain yang menginginkannya bisa mendapatkannya. Rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita, berarti jika dilihat dari rumah mereka, rumput kita lebih hijau.

Ciao.

Pustaka :

id.wikipedia.org/wiki/Budaya

mediabacaan.blogspot.com/2011/03/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html?m=1

openmind4shared.blogspot.com/2013/11/pengertian-dan-definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html?m=1

Budaya, Pengertiannya, dan Indonesia