Ah, Cantik

Kamu cantik,” kata seorang pemuda pada seorang gadis, kemudian dia membalasnya dengan senyum.

“Terima kasih,” ujarnya sambil tersipu manis. Wajahnya yang kemerahan karena terik matahari semakin merona akibat pujian tersebur. Meskipun yang mengatakannya adalah orang asing, tidak terpungkiri muncul rasa bahagia di hati gadis itu. Sensasi menyenangkan karena diperhatikan oleh orang lain.

Sebenarnya gadis itu tidak terlalu cantik. Tidak semenawan gadis cover majalah atau model iklan di televisi. Kekurangannya itu membuatnya ingin operasi plastik. Menyesuaikan diri dengan standar kecantikan masyarakat. Dia sudah menabung dari uang hasil keringatnya sendiri hanya untuk melakukan permak wajah. Karena itu, hari ini dia datang ke suatu daerah yang sudah terkenal memiliki klinik operasi plastik dengan hasil memuaskan. Kemudian tanpa disengaja, dia bertemu sengan pemuda yang memujinya.

“Anda mau ke mana, Nona?” tanya pemuda itu lembut. Cukup jarang ditemui pemuda yang mau bertanya secara baik-baik seperti itu, dan dia terlihat tidak memiliki niat jahat, sehingga sang gadis menjawabnya tanpa pikir panjang.

“Aku mencari sebuah klinik operasi plastik untuk mendaftarkan diriku,” jawabnya.

Sambil mengangguk, si pemuda bertanya kembali, “Anda sudah mantap untuk operasi plastik?”

“Ya, aku juga sudah menyiapkan seluruh biaya yang mungkin diperlukan.” Tanpa terdengar sedikit pun keraguan di nada bicaranya.

Hening sejenak, sebelum kedua sudut bibir si pemuda mengangkat ke atas. “Ibu saya juga mau operasi plastik karena dia telah kehilangan hidung dan setengah pipinya di sebuah kecelakaan saat saya masih kecil.”

Terkejut, sang gadis mempertanyakan kebenarannya hanya untuk fakta yang sudah pasti. “Benarkah?”

“Ya! Kliniknya terletak di ujung jalan sana, tidak terlalu jauh dari sini.” Sang gadis menyeka keringat yang mengucur dengan tangannya. Dia melihat ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk si pemuda. “Kalau boleh tahu, mengapa Anda mau operasi plastik?”

Sang gadis tiba tiba menjadi kaku untuk menjawab. Dia merasa pertanyaan itu begitu memojokkannya. Tidakkah dia lihat bahwa gadis di hadapannya hanya seseorang yang begitu sederhana dan hambar bila tidak dibubuhi kosmetik?

“Anda cantik. Dua mata, satu hidung, sepasang bibir, seperti sempurnanya seorang manusia. Lalu apa lagi yang ingin Anda ubah?

Orang-orang menyukai gadis yang cantik parasnya, namun orang-orang mencintai gadis yang cantik hatinya. Bunga dengan berbagai rupa dan warna terlihat indah dipandang, mengapa kecantikan hanya ada satu, padahal sebenarnya ia bermacam-macam?

Maafkan saya yang lancang, Nona. Padahal saya sama saja seperti Anda, mengumpulkan banyak uang untuk operasi plastik. Tapi itu adalah caraku untuk membahagiakan ibuku, sehingga ia bisa menatap wajahnya kembali, tanpa meringis setiap kali menoleh ke cermin.

Permisi, Nona! Selamat siang!”

Gadis itu tercengang ketika pemuda itu melenggang berlalu meninggalkannya. Kalimat-kalimat si pemuda mulai membekas pada dirinya. Dan mentari terasa begitu membakar, seakan menghalangi perjalanannya dan memikirkan bahwa dia lebih beruntung dari kebanyakan perempuan yang telah kehilangan kesempurnaan wajahnya.

Advertisements
Ah, Cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s