Milan Pizzeria Cafe : Tempat Hangout Asyik Untuk Kalian Penyuka Makanan Italia

Milan Cafe is a blend concept of retro and modern cafe, which have many influences from elegant and artistic old town New York and Old town Italy. At Milan Cafe, we present extraordinary dishes and beverages. (depokonline.com)

Bagi penikmat kuliner, pizza atau makanan khas Italia lainnya sudah tidak aneh di lidah. Gerai-gerai pizza terkenal seperti Pizza Hut dan Domino’s Pizza pun tersebar di berbagai pelosok. Bagi yang malas berpergian karena jalanan macet, panas, dan lainnya, bisa menelepon PHD, layanan delivery yang disediakan oleh Pizza Hut.

Lalu apa istimewanya Milan Pizzeria Cafe yang akan kami bahas?

Milan Pizzeria Cafe adalah kedai makanan khas Italia. Letaknya di Jl. Margonda Raya No.514, dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun Universitas Indonesia. Berada di tengah pertokoan, eksterior Milan Pizzeria yang dilengkapi tanaman rambat dengan kesan pondok ala Eropa membedakan kedai ini dengan toko di sekitarnya.
Ketika masuk, dinding bata merah dihiasi pernak-pernik dan furnitur kayu menyambut pengunjung, penerangan remang dari lampu bohlam membuat suasana terasa hangat dan homey.

image

Continue reading “Milan Pizzeria Cafe : Tempat Hangout Asyik Untuk Kalian Penyuka Makanan Italia”

Advertisements
Milan Pizzeria Cafe : Tempat Hangout Asyik Untuk Kalian Penyuka Makanan Italia

UTS dan Akhir Tahun

Menjelang akhir tahun, orang-orang bersiap dengan resolusi tahun 2016. Mungkin nggak bakal kesampaian juga sih, resolusinya. Saya kurang yakin banyak orang yang sudah melaksanakan resolusi tahun 2015 kemarin.

Selain resolusi, sebagian bersiap merayakan Natal, dan sebagian besar lain bersiap menyambut malam pergantian tahun.

BOOM BOOM BOOM 🎉🎉🎉 happy freakinnew year, but nothing changes much.

Paling penting dari semuanya, adalah libur sekolah. Akhir tahun, banyak sekali siswa yang menyambut dengan suka cita karena tidak perlu bersekolah. Saatnya jalan -jalan bersama keluarga, atau mungkin mengurung diri bersama komputer, laptop, atau smartphone, dengan internet waktu liburan Anda tidak akan terasa. Sayangnya, cukup banyak mahasiwa yang bertahan di kosan saat liburan. Pulang kampung makan waktu terlalu lama.

Bagi mahasiswa Universitas Gunadarma, bulan Desember tahun 2015 terasa agak pahit (ha ha ha) karena kami harus menghabiskannya dengan UTS (edited : it’s freakin’ January, 2017 now. UTS was still in December 2016)

image

edited :
don’t understand wth my past self was saying so i just deleted it.

UTS dan Akhir Tahun

Manga dan Moral Di Dalamnya

“Saat orang terluka, ia belajar untuk membenci. Saat orang melukai yang lain, mereka dibenci dan dipenuhi oleh penyesalan. Tapi mengenal penderitaan mengajarkan seseorang untuk menjadi baik. Penderitaan mengajarkan seseorang untuk berkembang, dan bagaimana kau berkembang tergantung padamu.” Jiraiya, karakter komik Masashi Kishimoto.

Manga, atau yang lebih dikenal sebagai komik Jepang, kebanyakan dianggap sebagai konsumsi anak-anak. Kenyataannya, manga dibagi menjadi beberapa jenis atau genre dengan target pembaca tertentu. Selain itu, di tempat asalnya, manga serta anime telah menjadi salah satu industri utama sehingga terjadi banyak persaingan di Jepang. Persaingan ketat menuntut mangaka (pembuat manga) untuk membuat jalan cerita yang menarik dan tokoh berkarakter sehingga bisa menangkap hati para pembaca.

Genre manga yang paling populer dan mudah masuk ke Indonesia adalah shounen yang lebih ditujukan kepada pembaca remaja laki laki, dan shoujo yang ditujukan kepada pembaca remaja perempuan. Genre shounen biasanya mengangkat tema pertarungan, sementara shoujo lebih senang kisah kisah manis yang ringan dan mudah dicerna.

Adapun seinen untuk pembaca laki laki dewasa karena tema yang lebih gelap dari shounen, dan josei untuk pembaca wanita.

Shounen dan seinen biasanya memperlihatkan perkembangan si tokoh utama, dengan misteri yang menyelimuti kehidupan mereka. Si tokoh utama akan mengalami berbagai halangan dan penderitaan. Berbagai perspektif dari karakter-karakter menguak keburukan manusia, tapi orang menjadi jahat karena ada alasannya.

Misalnya, Shingeki No Kyojin yang akan rilis bagian 1 dari film live action-nya pada 1 Agustus 2015 dan part 2 pada 19 September 2015 di Jepang. Eren Jaeger, sang tokoh utama harus merasakan kehilangan luar biasa pada usia 10 tahun. Ibunya terjepit di reruntuhan rumah yang terkena lemparan potongan dinding pelindung kota mereka yang ditendang raksasa. Tak lama, setelah penyelamatan ibunya gagal, seorang raksasa datang kemudian menyantap sang ibu di depan matanya. Selama lima tahun pelatihan prajurit, Eren berkembang dengan rasa bencinya pada raksasa sampai ingin memusnahkan mereka semua.

Lain lagi dengan manga mendunia Naruto. Tumbuh tanpa kasih sayang orangtua, dia berlaku nakal agar bisa diperhatikan oleh siapapun. Ketika suatu saat nyawanya terancam, guru di sekolahnya menyelamatkan Naruto, membuat dia sadar dan berhenti berbuat nakal. Menjelang remaja, dibekali dengan rasa keadilan tinggi, kasih sayang, pengertian, dan kemampuan untuk mewujudkan mimpi yang dimilikinya menjadikan Naruto seseorang yang mudah dipercaya orang lain. Berkat itu, Naruto berhasil meraih mimpinya untuk menjadi pemimpin desa dan tahu bagaimana dia bisa merubah orang jahat menjadi baik sebab dia pernah merasakan hal yang sama.

Tokyo Ghoul, manga seinen yang populer di dunia, mengangkat tema psikologis. Ken Kaneki, mahasiswa baru yang biasa biasa saja, mengalami goncangan hebat karena hidupnya mendadak berubah 180 derajat akibat transplantasi organ ghoul. Ghoul adalah makhluk pemakan manusia dengan wujud yang serupa. Diceritakan di sini berbagai penderitaan Kaneki yang harus beradaptasi menjadi setengah ghoul, diburu suatu organisasi ghoul karena kemampuannya yang didapat dari ghoul wanita dengan reputasi terkenal di kalangannya, serta dikurung di ruang penyiksaan selama berhari-hari. Kemalangan serta penderitaan berturut-turut itu mengubah Kaneki yang dulunya pasrah, menjadi orang yang mau melakukan apapun asalkan keinginannya terlaksana. Dia menjauhkan diri dari teman baiknya Hideyoshi agar Kaneki tidak dibenci olehnya. Padahal sebenarnya Hideyoshi sudah tahu, dan tetap menerima Kaneki apa adanya.

Meski mereka adalah tokoh fiksi, banyak sekali yang bisa kita pelajari dari mereka. Melalui penderitaan yang mungkin belum kita alami sendiri, terlihat bahwa manusia sesungguhnya paling takut merasa kehilangan, dan begitu menderita ketika kehilangan sesuatu.

Manga dan Moral Di Dalamnya

Santapan Si Kaya vs Si Miskin Dari Belahan Dunia

Fotografer Henry Hargraves memulai seri fotografi ini dengan memotret makanan yang dimakan diktator dalam sejarah. Meski begitu, dengan cepat tujuan mereka berubah ketika melihat persamaan signifikan antara masa lalu dan sekarang. Hal itu memperjelas bagaimana pemimpin otoriter memerintah sepanjang sejarah dengan menjadikan makanan sebagai senjata, secara sistematis menekan, mendiamkan, dan membunuh rakyat melalui kelaparan.

Korea Utara

poor-rich-meals-01_2

poor-rich-meals-02_2

Diktator Korea Utara Kim Jong Un menyantap bertumpuk makanan, desserts dan keju Emmental yang diketahui sebagai favoritnya (atas). Sementara lebih dari seperempat total anak di Korea Utara harus menderita malnutrisi kronis karena makanan yang lebih dari kurang.

Amerika Utara

poor-rich-meals-03 poor-rich-meals-04

Di Amerika Serikat, ketika ‘kesenjangan pangan’ mungkin jarang terdengar, satu di antara enam dalam populasi hidup di bawah garis kemiskinan menurut data sensus terakhir. Gambar di atas adalah makanan untuk kaum kaya, sedangkan yang di bawah, makanan murah yang tidak sehat untuk penduduk miskin. Dan ironisnya, makanan paling murah yang dimakan orang miskin seringkali berakibat pada obesitas, bukan kelaparan.

Syria

poor-rich-meals-05 poor-rich-meals-06

Presiden Bashar Al-Assad dan istrinya disebut-sebut menyantap kombinasi hidangan Barat dan Timur Tengah (atas), ketika Assad memutuskan untuk membuat lapar rakyatnya hingga meninggal (bawah). “Karena Assad mengatakan dia tidak mau memberi makan pemberontak yang bersenjata, truk yang dipenuhi bantuan pangan sekarang terdiam di luar kota Homs yang terkepung oleh tentara, ketika banyak warga sipil yang tidak punya persediaan untuk berminggu-minggu,” katanya.

Perancis di Abad 18

poor-rich-meals-07

poor-rich-meals-08

Sebelum revolusi tahun 1789, masyarakat miskin atau ‘sans-culottes’ biasanya menghabiskan lebih dari setengah penghasilan mereka pada makanan agar bisa bertahan hidup. Petani yang tidak mahir di tahun 1789 bisa diperkirakan menghabiskan 97 persen dari upahnya untuk membeli roti karena kurangnya hasil panen, menurut sejarawan Gregory Stephen Brown. Sementara itu, petinggi monarki seperti Ratu Marie-Antoinette makan malam dengan hidangan mewah termasuk manisan, sampanye, dan kue-kue Perancis.

Romawi Kuno

poor-rich-meals-09 poor-rich-meals-10

Untuk masyarakat Romawi kuno, yang teratas dari periode historis masih dikenal karena mewahnya hidangan berlebihan mereka. Laki laki atau perempuan biasa, di sisi lainnya, lebih sesuai dengan diet yang terdiri dari milet (sekelompok serealia yang memiliki bulir berukuran kecil) dan kemungkinan anggur.

Mesir Kuno

poor-rich-meals-11

poor-rich-meals-12

Pemimpin dan monarki Mesir Kuno juga menikmati berbagai variasi makanan yang lebih kaya, saat masyarakat miskin harus cukup dengan roti sederhana dan sayuran (bawah).

They always say, history repeats itself.

Diterjemahkan dari :

http://www.unmotivating.com/meals-of-the-rich-vs-very-poor-around-the-world/

Santapan Si Kaya vs Si Miskin Dari Belahan Dunia

Budaya, Pengertiannya, dan Indonesia

Menurut Robert H. Lowie, kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh bukan dari kreativitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui pendidikan formal dan/atau informal. 

Sedangkan menurut R.M Suwardi Suryaningrat, kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Budaya, diambil dari bahasa Sanskerta buddhayah yang merupakan kata jamak dari buddhi diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Berdasarkan definisinya, budaya hidup bersama dan berasal dari manusia itu sendiri. Di masa terbentuknya, budaya hanyalah sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok manusia. Namun kebiasaan tersebut akhirnya melekat pada kelompok masyarakatnya, kemudian diturunkan kepada generasi selanjutnya yang menjadi kelompok masyarakat zaman sekarang.

Budaya dipandang sebagai ciri khas suatu kelompok masyarakat, bahkan negara. Ia tidak bisa terpisahkan sehingga citra individu dapat dipengaruhi oleh budaya yang dimilikinya. Meski begitu, budaya tidaklah abadi jika generasi penerus tidak mau melestarikan warisan yang ditinggalkan pendahulunya; yaitu sejarah dan budaya.

Negara yang tidak menonjolkan budayanya bagai tidak memiliki identitas. Tidak ada istimewanya, hanya sekedar wilayah yang dihuni manusia. Negara tanpa budaya mirip kanvas tanpa warna. Harusnya menjadi lukisan yang indah, tapi ia dibiarkan terpajang dengan kekosongannya.

Alam Indonesia hampir tak tertandingi oleh negara termaju sekali pun. Sayang, sumber daya manusia berkualitas di Indonesia masih di bawah standar karena tertutupi oleh kebodohan, keegoisan, kemiskinan, serta rasa malu untuk memulai sesuatu yang baru, atau membangkitkan hal yang telah lalu. Tapi mereka tidak malu jika sekedar meniru.

Indonesia yang memiliki lebih dari seribu potensi tak tergali, permukaannya terhiasi budaya dari negara lain. Globalisasi masuk ke Indonesia seperti air terjun yang membasahi semua di bawahnya, semua terkena. Banyak generasi meninggalkan budaya asli, lalu ketika seseorang di generasi selanjutnya menyadari, ia akan berpikir : “Apakah negaraku tidak punya identitas sendiri?

Bukan tidak punya, mungkin lebih tepatnya tidak terakui. Jika ada peringatan berupa pencurian hasil budaya oleh budaya lain, barulah pemerintah bertindak dan rakyat berkoar-koar menuntut hasil budaya tersebut dikembalikan. Hasil budaya yang tidak semua dari mereka tahu, karena tidak dilestarikan secara baik.

Bukannya tidak boleh mengetahui atau menyukai budaya negara lain, justru kita tidak boleh buta tentang pengetahuan global. Tapi kita juga harus tahu, kalau bukan kita yang menyayangi dan meneruskan budaya Indonesia ke generasi selanjutnya, maka harus siapa lagi? Berbanggalah untuk apa yang kita punya, sebab belum tentu orang lain yang menginginkannya bisa mendapatkannya. Rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita, berarti jika dilihat dari rumah mereka, rumput kita lebih hijau.

Ciao.

Pustaka :

id.wikipedia.org/wiki/Budaya

mediabacaan.blogspot.com/2011/03/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html?m=1

openmind4shared.blogspot.com/2013/11/pengertian-dan-definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html?m=1

Budaya, Pengertiannya, dan Indonesia

Ilmu Budaya Dasar

Ilmu budaya dasar merupakan suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah keemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang tergolong dalam pengetahuan budaya.

Pertanyaannya, mengapa mahasiswa yang bukan dari fakultas ilmu sosial harus mempelajari materi tersebut? Alasannya terdapat di tujuannya. Ilmu budaya dasar memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Supaya mahasiswa lebih peka terhadap masalah dan kebudayaan = intinya, jangan egois dan lihatlah sekeliling. Meski lahir dan mati sendirian, manusia tidak bisa hidup sendiri. Dengan fisik yang masih bugar dan tentunya lebih beradab serta berpendidikan, mahasiswa lebih diutamakan untuk mengalah di tempat umum, seperti memberi kursi di kereta pada ibu hamil, lansia, dan lain-lain.
2. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap nilai nilai lain untuk lebih menyesuaikan diri = universitas biasanya adalah suatu tempat di mana lulusan anak SMA dari berbagai daerah berkumpul kemudian menjadi mahasiswa. Daerah berbeda, berarti adat, kebiasaan serta nilai nilai yang dimilikinya berbeda pula. Apalagi mahasiswa yang mengambil kos, harus mampu beradaptasi dengan nilai dan norma setempat, agar tidak dianggap tidak sopan atau tidak menghormati.
3. Memberikan kesadaran terhadap mahasiswa mengenai nilai nilai hidup dalam masyarakat = kuliah di universitas, mahasiswa masih tetap belajar. Hal itu berarti tidak menjadikan mahasiswa berbeda dengan pengalamannya selama 12 tahun sebelumnya. Mereka belum memasuki kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya; dipenuhi persaingan kerja, memperluas sosialisasi, mengurusi kehidupan ekonomi keluarga dan diri sendiri, serta lainnya.
Karena itulah mahasiswa harus diberikan pengertian bahwa terjun ke kehidupan bermasyarakat itu cukup berbeda dari kehidupan mereka sebagai pelajar. Mereka harus mengerti apa-apa yang boleh maupun tidak boleh dilakukan, agar setidaknya mereka mendapatkan teori sebelum mempraktekkannya suatu hari nanti.
4. Mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusiaan dan kebudayaan = bukan hanya politik Indonesia yang bermasalah dan harus ikut ikutan diurusi oleh mahasiswanya. Apabila permasalahan kemanusiaan dan kebudayaan diperbaiki lebih dahulu, maka aspek lainnya pun akan ikut membaik. Sayangnya, banyak orang yang cenderung membutakan diri dari persoalan ini.
5. Memiliki pengetahuan yang luas tentang kebudayaan Indonesia = jangan memperluas kebudayaan dan kebiasaan hidup bangsa lain hanya karena ‘ini zamannya globalisasi’ dengan memiliki pengetahuan nol tentang negaranya sendiri.

Ilmu Budaya Dasar